Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut), Abdul Aziz Angkat tewas setelah dikeroyok demonstran. Peristiwa itu terjadi seusai Sidang Paripurna DPRD Sumut. Massa kecewa karena tuntutan agar pemekaran Provinsi Tapanuli diputuskan dalam sidang paripurna tidak ditanggapi pimpinan Dewan.
Saksi mata yang juga anggota DPRD Komisi D Fadly Nurzal mengatakan, massa memaksakan diri masuk ke ruang sidang dua menit setelah sidang paripurna selesai. Mereka merangsek masuk dan menuntut agar rekomendasi pembentukan Provinsi Tapanuli segera diputuskan. Tapi pada saat itu agenda tidak membahasnya.
Karena kecewa, massa mulai bertindak anarkis. Sejumlah anggota DPRD segera lari menyelamatkan diri melalui pintu samping. Namun, demonstran mengetahuinya dan menghadang mereka sambil melepaskan pukulan dan melempar batu beberapa kali. Pada saat itulah Aziz terkena pukulan dan tersungkur.
Aziz kemudian diselamatkan ke ruang Fraksi Golkar dalam kondisi pingsan. Dan, beberapa saat kemudian ia sudah tidak bernyawa. Aziz pun langsung dibawa ke rumah sakit Gleneagles Medan.
Dalam pengamatan, saat ini sudah tidak ada lagi demonstran di lingkungan DPRD Sumut. Tapi pintu pagar DPRD tampak terguling dan di beberapa lokasi di gedung DPRD dipenuhi polisi, baik berseragam maupun berpakaian preman.
Sumber : http://surya.co.id




semoga ini bs menjadi pelajaran bg Qta semua untuk menyelesaikan mslh dgn cara anarkis dan tidak main hakim sendiri..
mksh y udah mampir k blogQ
salam kenal
ANARKISME DEMOKRASI TAPANULI
Betapa sombongnya kamu… Betapa angkuhnya kamu… meniti titian demokrasi berlumurkan anarkisme dan kemurkaan.
Tapanuli, 3 februari 2009. Ribuan demonstran merangsik masuk gedung dewan. Merusak, anarkisme. Ketua DPRD, Abdul Aziz Angkat tewas dalam kejadian tersebut.
Mendengar berita itu, aku langsung terkulai lemas. Seolah tak percaya. Semua bayangan indah demokrasi, telah lenyap dari alam fikiranku. Anarkisme kaum bar-bar bersembunyi di balik kata-kata kebebasan berpendapat.
Batinku merintih perih, penuh luka, karena kepentingan sekelompok golongan, mengakibatkan luka hati yang dalam, dalam sekali dan sukar di pulihkan. Awan hitam sedang menyelubungi jalan demokasiku.
Tapanuli, 6 februari 2009.
Tiga hari setelah nya, dengan berkeras faham, kucoba kembali menata setiap kepingan yang tersisa, puing-puing sisa kekerasan masih melekat disana. Satu demi satu ku bersihkan. Dengan tujuan manjadi jalan kedepan bagi kebebasan demokrasi negeriku.
sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/
saya terharu dan prihatin sekali dengan kejadian ini
sungguh tragis
seorang ketua dewan hrs meregang nyawa atas nama demokrasi
apapun alasannya anarkis dan kebrutalan atas nama demokrasi tidak bisa dimaafkan
yg salah harus tetap dihukum
itulah kurang dewasanya demokarsi kita. masih menunjukan otot dalam menyelesaikan masalah….. saya prihatin …orang Tapanuli terkenal pintar tapi ternyata mahasiswanya saja persis anak TK bahkan seperti orang tidak berpendidikan. Anarkis ….. dan tidak sopan …mau jadi apa kalo para mahasiswa nya seperti itu ….bangggaaaaa kalian orang tapanuli dengan keberingasan mahasiswa mu ? dewasalah …kalian orang-orang terdidik ….bukan Preman …